Agun Gunandjar Sudarsa

Untuk DPR Bersih dan Indonesia Lebih Baik
Total votes: 350
Thursday, September 12, 2013

Pemuda/i Berkarakter Dengan Neo Nasionalisme

Diposting oleh: 
Editor

Ciamis, Ketua Tim Kerja dan Sosialisasi Empat Pilar Berbangsa Bernegara Bapak Agun Gunandjar Sudarsa menjadi pembicara dalam kuliah umum untuk mahasiswa baru Universitas Galuh Ciamis (Unigal) pada hari Kamis 5 September 2013. Kuliah umum di hadiri rektor Unigal dan jajarannya lengkap serta para mahasiswa baru Unigal 2013-2014 yang berjumlah sekitar 2000 orang dari berbagai fakultas dan jurusan.

Pada kesempatan tersebut Pak Agun menyampaikan bahwa globalisasi sebagai sebuah situasi tidak bisa kita hindari atau abaikan karena saat ini dunia sudah saling menyatu, dengan bantuan teknologi informasi dan komunikasi, apa yang terjadi dibelahan dunia ini bisa diketahui dibelahan dunia lainnya pada saat yang bersamaan. Sehingga apa yang terjadi tersebut menjadi perhatian oleh seluruh masyarakat dunia yang perlu disikapi dengan cepat dan tepat.

Globalisasi sebagai sebuah kondisi mensyaratkan kekuatan karakter pada setiap individu agar tidak tergerus dan hanya menjadi penonton tanpa punya peran yang bermanfaat bagi diri sendiri , bangsa , negara dan agama. Tanda - tanda penjajahan bangsa lain melalui globalisasi kepada generasi muda bangsa Indonesia sudah sangat jelas dan mulai memperlihatkan dampaknya, dimana kecenderungan gaya hidup individualis lebih dominan dibanding gaya hidup bersosial. Hal tersebut merupakan pengingkaran terhadap karakter jatidiri bangsa Indonesia dengan sifat gotong royong dan saling asah asih asuh.

Hilangnya karakter jadidiri bangsa ini menurut Pak Agun karena generasi muda kita mulai tidak paham dimana mereka berdiri, padahal sebagai generasi harapan bangsa, generasi muda harus sadar bahwa mereka berdiri di rumah bangsa Indonesia yang disebut sebagai Rumah Pancasila. Mengapa demikian? menurut Pak Agun ,rumah berarti tanah air bangsa adalah kampung halaman yang harus selalu dijaga, dirawat dan diamanahkan segala kekayaan dan potensi dari alam, manusia dan budayanya di bangsa dan negara Indonesia ini.

Sedangkan Pancasila berarti pedoman hidup dari setiap insan yang berbangsa dan bernegara indonesia dimanapun ia berada, karena sejatinya Pancasila adalah jatidiri bangsa dan negara kita. Artinya gaya hidup yang dilakukan oleh setip anak bangsa adalah gaya hidup yang sesuai dengan nilai-nilai yang terkandung disetiap sila-sila dari pancasila. seperti nilai relijius, nilai kemanusiaan, nilai persatuan bangsa dan negara, nilai musyawarah dan nilai keadilan. Sehingga budaya-budaya asing yang masuk melalui globalisasi dan merusak nilai-nilai jati diri bangsa akan dengan sendirinya tertolak dan kita tetap menjadi bangsa yang berkarakter dan dihormati.

Pak Agun juga menekankan bahwa cara memandang rumah kita atau Rumah Pancasila juga harus menggunakan kacamata yang besar dan objektif, karena faktanya kita memiliki beraneka ragam kekayaan budaya, mulai dari bahasa, adat istiadat , kebiasaan dan lain sebagainya yang perlu disikapi dengan kacamata kebangsaan "Bhinneka Tunggal Ika" yaitu beraneka ragam budaya tetapi satu tujuan”.

Seperti misalnya keragaman dalam berpakaian, di Indonesia saat ini ada masyarakat yang dalam berpakain semua serba tertututp sampai hanya matanya yang keliatan (jilbab penuh),tapi juga ada masyarakat yang serba terbuka sampai hanya "burung"nya yang tertutup (masyarakat Papua yang menggunakan koteka). Artinya lihatlah keragaman itu sebagai sebuah kekayaan modal untuk sampai tujuan nasional, dan bukan sebagai perbedaan yang dipermasalahkan sehingga memecah belah persatuan.

Pak Agun juga bercerita tentang pengalamanya dalam bersinggungan pandangan dengan anak muda kreatif bangsa kita ini, ketika hasil wawancaranya dengan media online tribunnews.com tentang bendera negara Indonesia Merah Putih yang di tulis logo grup band Metallica mendapat kecaman dari para pembaca.  Menurut mereka Pak Agun tidak nasionalis karena tidak merasa bangga ketika bendera negara Indonesia Merah Putih bertuliskan logo band setenar Metallica tersebut di pampang saat konser band tersebut berlangsung.

Mendapat tudingan tersebut Pak Agun menjawabnya melalui media sosial Facebook, disitu beliau menjelaskan bahwa ia sangat mendukung potensi kreatifitas anak bangsa, namun demikian anak bangsa juga harus memiliki kesadarann bahwa sistem kebebasan berpendapat dan berekspresi yang dianut bangsa kita berbeda dengan bangsa lainnya. Karena di Indonesia kebebasan tersebut tidak bersifat mutlak dengan memberikan segalanya kepada individu (individualis), tetapi kebebasan yang sesuai dengan norma dan nilai yang kita anut yaitu Pancasila.

Artinya silahkan berkreatifitas selama tidak bertentangan dengan kepentingan umum karena dalam sebuah bendera negara Indonesia Merah Putih terkandung nilai perjuangan dari para pahlawan yang harus dihargai oleh kita para penerusnya. Dan kreasi menuliskan sesuatu pada bendera negara Indonesia bisa memicu keberatan bagi masyarakat kita lainnya karena adanya ketidaksesuaian nilai tujuan dan perjuangan antara band Metallica dan bangsa Indonesia . Pak Agun juga menghimbau bahwa perbedaan tersebut sebagai suatu momen bagi negara untuk lebih memberikan wawasan kebangsaan dan kenegaraan bagi seluruh masyarakat.

Pada sisi yang lain Pak Agun mengajak para mahasiswa dalam melihat Globalisasi ini sebagai sebuah kesempatan besar, dimana anak bangsa yang jauh berada dipelosok pedalaman meskipun terkungkung jarak, tetapi dengan menggunakan internet tetap harus memiliki kemauan dan mimpi untuk berprestasi di tingkat dunia internasional. Jangan pernah berpikiran sempit dan membatasi potensi diri dengan menghakimi diri bahwa "anak desa hanya akan sampai tingkat desa saja", pada saat itu tanpa sadar berarti kita telah mendahului kehendak Tuhan Yang Maha Kuasa dengan berputus asa dan membatasi potensi diri.

Pak Agun memberikan semangat kepada mahasiswa baru Unigal untuk terus bermimpi dan berjuang mewujudkannya melalui kerja keras pada setiap kesempatan yang ada. Bersekolah atau bekerja keluar negeri untuk mengejar cita-cita menjadi ahli di bidang tertentu atau menjadi pemimpin di perusahaan multinasional adalah sebuah prestasi tingkat dunia akan tetapi beliau berpesan agar jangan pernah lupa akan asal-usul dengan tetap menjaga jatidiri sebagai anak bangsa dan negara Indonesia, karena itulah sejatinya nasionalisme di era gLobalisasi yaitu neo-nasionalisme, yang artinya tidak anti asing tetapi mengambil hal-hal positif dari dunia luar (global) untuk melanjutkan perjuangan dan cita-cita bangsa. (IK)

Skip Comments

Add new comment

Back to Top