Agun Gunandjar Sudarsa

Untuk DPR Bersih dan Indonesia Lebih Baik
Total votes: 339
Saturday, March 29, 2014

Demokrasi Untuk Kesejahteraan Rakyat

Diposting oleh: 
Editor

1). Motif korupsi diawali adanya konflik kepentingan (conflict of interest), antara kepentingan rakyat dan kepentingan pribadi/kelompok.

2). Kepentingan rakyat yang menjadi tangung jawab dan kewajiban pejabat negara harus diperjuangkan dan berada di atas kepentingan pribadi/kelompok.

3). Karena pejabat negara berdiri dan berwenang atas kedaulatan yang diberikan oleh rakyat yang telah memilihnya melalui Pemilu.

4). Oleh sebab itu pejabat negara harus fokus dan konsentrasi terhadap tupoksi (tugas pokok dan fungsi) untuk memperjuangkan kepentingan rakyat sesuai UUD 1945.

5). Sehingga apabila pejabat negara juga rangkap jabatan sebagai pejabat kelompok, sudah pasti akan lahir konflik kepentingan dalam pelaksanaanya.

6). Konflik kepentingan itu antara tupoksi memperjuangan kepentingan rakyat, dengan tupoksi memperjuangan kepentingan kelompok.

7). Apalagi pejabat rangkap jabatan tersebut tidak memiliki kesadaran dan etika, maka yang terjadi adalah kepentingan rakyat dikorbankan demi kepentingan kelompok.

8). Padahal sudah tidak mungkin lagi rakyat mentolerir hal tersebut. Disaat kehidupan masih sulit, rakyat mengharapkan pejabat negara yg bisa diandalkan.

9). Saat ini sudah bukan jamannya lagi rakyat dikorbankan, karena Demokrasi yang kita bangun sejatinya adalah untuk kesejahteraan rakyat.

10). Itulah hakekat harapan rakyat yang berpartisipasi melalui Pemilu. Mereka menginginkan keadilan akan hak-haknya sebagai warga negara sesuai UUD 1945.

11). Karena Pemilu bukan untuk Pemilu, tapi Pemilu sebagai sarana mensejahterkan rakyat, dengan melahirkan pejabat negara yang amanah memperjuangan kepentingan rakyat.

12). Demokrasi sejatinya adalah dari rakyat, oleh rakyat dan untuk rakyat. Jadi apapun hasilnya Demokrasi adalah kemenangan rakyat.

13). Jika dari Pemilu ke Pemilu rakyat belum kunjung memperoleh hak-haknya sebagai warga negara sesuai UUD 1945, itu bukan salah Demokrasi, tapi salah pilihan pada Pemilu.

14). Jadilah pemilih cerdas, yang secara jujur tanpa emosi melihat kiprah masing-masing Parpol peserta Pemilu dengan caleg-calegnya, yang harum, berprestasi dan terpercaya.

*dikutip dari twitter @kangagun pada hari Sabtu tanggal 29 Maret 2014 pukul 16.00 WIB

Skip Comments

Add new comment

Back to Top