Agun Gunandjar Sudarsa

Untuk DPR Bersih dan Indonesia Lebih Baik
Total votes: 245
Friday, August 22, 2014

AGUN : GOLKAR HARUS JADI PARTAI PEJUANG, PARTAI KONSISTEN

Diposting oleh: 
Editor

Situasi Partai Golkar pasca Pilpres ini menjadi perhatian publik. Karena Partai Golkar sebagai kekuatan politik nasional merupakan bagian yang tidak terpisahkan dalam sejarah perjalanan bangsa dari masa ke masa termasuk masa depan bangsa.

Mengenai perkembangan tersebut, banyak suara – suara bermunculan dari dalam dan luar Partai Golkar. Mulai dari rencana percepatan Musyawarah Nasional (Munas), pemecatan kader-kader yang berbeda sikap, hingga perubahan arah koalisi Partai Golkar dari awalnya di Koalisi Prabowo-Hatta ke Koalisi Jokowi-JK.

Agun Gunandjar Sudarsa sebagai politisi senior yang terlibat dalam dinamika politik Partai Golkar dikancah nasional, tidak diam dan mendorong kader-kader lain untuk lebih cerdas dan belajar dari pengalaman, dalam menentukan sikap demi kejayaan Partai Golkar untuk Indonesia Adil dan makmur. Berikut ini wawancara lengkapnya.

Ada yang mendorong Munas Partai Golkar Untuk Kembali Ke AD/ART?

Dalam konteks organisasi , aturan main kita adalah AD/ART, sebagai norma hukum yang tertinggi. Tapi apakah dalam pelaksanaanya akan sama persis dengan AD/ART, belum tentu. Mengapa? Karena AD/ART itu bersifat statis. Lalu bagaimana prosesnya? Ada norma hukum tertinggi yang bersifat dinamis, sebagai pelaksanaan AD/ART yaitu forum pengambilan keputusan organisasi Munas. Jadi AD/ART yang tertinggi iya, tapi dalam pelaksanaanya perlu Munas.  Jadi munas itu adalah implementasi dari AD/ART.

AD/ART mengatakan periodik Munas itu lima tahun, tapi apakah pelaksaanya akan tepat lima tahun? itu harapan kita, tapi pelaksanannya belum tentu. Bisa saja baru satu tahun Munas, tapi tahun berikutnya ada Munas lagi. Begitu juga sebaliknya, Munas bisa dipercepat, Munas juga bisa mundur tidak lima tahun.

Jadi harus cerdaslah, tapi memang kalau sudah disusupi kepentingan ya jadi tidak cerdas.  

Apa alasan mengapa Munas tidak dilaksanakan persis per lima tahun?

Keputusan bahwa Munas Partai Golkar berikutnya adalah tahun 2015 merupakan hasil keputusan forum Munas 2009 di Pekanbaru, dalam bentuk rekomendasi. Itu hasil keputusan bersama semua pihak.

Keputusan itu juga tidak serta merta muncul begitu saja, tapi ada pertimbangan-pertimbangnya mengapa jadwal Munas menjadi 2015. Hal ini agar hasil kerja sebuah kepengurusan diakhir masa kerjanya bisa dievaluasi secara objektif. Munas akan memberikan reward and punisment, atas kinerja perangkat-perangkat kepengurusan, karena Munas memang memiliki otoritas kewenangan untuk mengevaluasi secara keseluruhan.  Dalam Munas akan terlihat, apakah hasilnya sesuai dengan sasaran, siapa yang bekerja dan siapa tidak, siapa yang mendukung kerja dan siapa yang tidak mendukung. Itu semua akan terlihat dalam Munas sebagai forum organisasi yang tertib tidak asal ganti pengurus tanpa ada pembelajaran. Kalau proses ini dijalankan maka kebesaran Partai Golkar kedepan bukan mustahil, karena partai belajar dari pengalaman yang telah dijalani.

Bagaimana dengan desakan beberapa pihak internal yang mendorong Munas digelar Oktober 2014?

Saya bertanya kenapa sih harus bulan Oktober?. Kalau bulan November bagaimana, toh tetap lima tahunan. Tapi kan belum tentu juga mereka mau, karena sudah terbaca kepentingannya.

Untuk itu saya himbau, Partai Golkar itu harus jadi partai mandiri, partai konsisten, partai pejuang. Jangan jadi partai pem-bebek yang mengekor orang lain. Dua periode ini Partai Golkar jadi partai pengekor, jadi partai bemper. Ini yang harus diakhir.

Kalau ada kader Partai Golkar yang hari ini jadi Wakil Presiden  ya sudah, jangan bawa-bawa Partai Golkarnya. Karena dia hadir ke sana (sebagai calon wapres) juga tidak membawa bendera Partai Golkar. Itukan seperti keinginan beliau pada waktu mau maju.

Janganlah lalu  sejumlah orang berpikir minta Munas dipercepat dengan motivasi ingin memindahkan Partai Golkar dari semula dukung Koalisi Prabowo-Hatta lalu pindah ke Koalisi Jokowi-JK. Itu namanya partai tidak konsisten, partai pem-bebek, partai pengekor.

Saya anggota DPR dari Partai Golkar yang cukup senior, wajar saya berkata seperti itu. Saya merasakan didalam DPR selama 10 tahun terakhir ini, Partai Golkar jadi pengekor hanya jadi bemper. Saya menjalani sebagai saksi hidup, bagaimana Partai Golkar didalam pemerintahan orang lain cuma jadi bemper, Golkarnya ga besar-besar, malah semakin kecil. Kalau ada orang berkata berbeda, itu karena dia tidak mengalami didalam seperti yang saya alami.

Bahkan saya mengalami bagaimana dulu pasca reformasi 1999, Partai Golkar dikejar-kejar minta dibubarin. Bagaimana Ketua Umum saat itu Pak Akbar Tanjung dikejar-kejar orang. Ada kader Partai yang dipermalukan dengan ditelanjangi. Awal reformasi saya sudah di DPR, sebagai Anggota Fraksi Karya Pembangunan.

Pada Munas 1999 antara Edi Sudrajad dan Akbar Tanjung, saya mengalami. Lalu  Munas 2004 antara Akbar Tanjung dan JK, Pak Akbar dikepung tujuh penjuru angin, saya juga alami. Terus Munas 2009 di Pekanbaru (ARB dan Surya Paloh), saya juga alami. Intinya, kita harus konsisten dalam berpolitik. Kalau kalah ya berpolitik di posisi yang kalah. Sebagai satu kesatuan garis organisasi partai politik.

Sebelum Pilpres 2014 lalu, ada kader yang berbeda sikap dengan partai dan akhirnya dipecat, apa komentarnya?

Sepanjang memenuhi prosedur mekanisme AD/ART dan PO-PO (pedoman-pedoman organisasi), saya mendukung sampai tindakan pemecatan sekalipun.

UUD 1945 sebagai konstitusi negara telah memberikan jaminan hak ekslusif kepada Partai Politik sebagai organisasi yang menjadi peserta Pemilu (bukan caleg) dan pengusung calon pasangan pada Pilpres.

Maka dalam konteks kader partai yang berbeda dengan sikap partainya, itu masalah internal partai yang bersangkutan dan tidak ada hubungannya  dengan mengkebiri suara rakyat yang telah memilih kader tersebut.

Dan dalam organisasi partai, DPP (Dewan Pimpinan Pusat) sebagai pemegang mandat dan pelaksana organisasi telah melakukan mekanisme sesuai prosedur, mulai dari peringatan sampai pemberhentian.

Apa himbauan kedepan untuk kader-kader Partai Golkar?

Himbauan saya kedepan, mari kita gelar Munas yang akan datang sebagai Munas yang bermartabat, yang memposisikan Partai Golkar sebagai partai pejuang, yang tidak mengambil posisi mencla-mencle.

Terkait dengan itu, saya memberikan apresiasi kepada sejumlah tokoh yang mendeklarasikan dirinya siap maju sebagai calon Ketua Umum Partai Golkar. Ini membuktikan bahwa Golkar adalah partai kader yang tidak kekurangan tokoh kompeten untuk memimpin organisasi.

Skip Comments

Add new comment

Back to Top