Agun Gunandjar Sudarsa

Untuk DPR Bersih dan Indonesia Lebih Baik
Total votes: 248
Tuesday, August 26, 2014

“MPR Goes to Kampoeng”, Strategi Efektif Sosialisasi Nilai Kebangsaan

Diposting oleh: 
Editor

Sosialisasi Kehidupan Berbangsa dan Bernegara dengan Pancasila, UUD 1945, NKRI dan Bhinneka Tunggal Ika, dilakukan oleh MPR RI dan tersebar dari Sabang sampai Merauke. Kegiatan sosialisasi tersebut, berupa program-program sosialisasi seperti lomba cerdas cermat, lomba pembacaan puisi, lomba cipta lagu dikalangan pengamen, yang semua bertemakan nilai-nilai kebangsaan tersebut.

Salah satunya adalah program sosialisasi “MPR Goes to Campus” yaitu kegiatan sosialisasi berupa roadshow dialog publik seperti talkshow dengan para komunitas akademik, seperti mahasiswa, dosen-dosen, dan guru besar dengan tujuan bagaimana menyemangati kembali tentang kehidupan kebangsaan ini di era demokrasi , pengutamaan HAM, pengutamaan lingkungan hidup dan globalisasi ini, yang faktanya nilai-nilai kebangsaan kita tereduksi dengan nilai-nilai baru hasil terpaan era tersebut.

Dampak dari reduksi tersebut , saat ini orang lebih menampakan ke-egoisme-annya (individualisme), menampakan dirinya paling segala-galanya, sehingga menutup nilai kehidupan kegotong-royongan   milik bangsa kita. Contoh, saat ada orang berkumpul, mereka tidak saling dialog, diskusi, musyawarah tentang kabar dan kondisi dirinya dan keluarganya tapi masing-masing sibuk dengan handphonenya.

Secara tidak sadar, kebiasaan itu telah membuat kita cenderung bersikap individual, yang merupakan ciri dari paham pemikiran liberalis dan kapitalis. Yaitu suatu paham yang meniadakan nilai-nilai toleransi dan gotong-royong, karena hanya mengacu pada supremasi dan kebebasan individu berdasarkan “hukum rimba”, yaitu siapa yang paling kuat dan siapa yang paling bisa (mampu), kalau anda bodoh (tertinggal) maka resiko anda sendiri tidak bisa maju (tidak bisa sukses).

Sebagai negara demokrasi, Bung Karno sudah berpesan bahwa Indonesia ini ada untuk semua , buat orang kaya, buat orang miskin, semua suku, agama, ras, yang artinya Indonesia ada untuk semua lapisan masyarakat. Atas dasar itu, kali ini ada perubahan yang sangat mendasar dalam strategi sosialisasi yang dilakukan MPR RI, dimana sosialisasi tidak sekedar menemui komunitas-komunitas pada tataran elit, tapi MPR saat ini langsung masuk ke kampung-kampung ke desa-desa, istilahnya disebutnya “MPR Goes to Kampoeng”.

Kampung atau desa adalah kampus bagi masyarakat untuk belajar saling memahami, mendalami, mengisi dan saling bantu untuk kehidupan mereka sendiri di kampung tersebut dalam suasana nilai-nilai kepribadian dan jati diri bangsa kita yaitu Pancasila, UUD 1945, NKRI dan Bhinneka Tunggal Ika. Untuk pertama kali MPR mengajak untuk kita melihat implementasi nila-nilai kebangsaan di kampung/desa Ciburayut , Kecamatan Cigombong, Kabupaten Bogor Jawa Barat.

Implementasi nilai-nilai kebangsaan bukan sekedar sila-sila yang dihapalkan dan dibaca. Tapi sungguh-sungguh menjadi jatidiri dan kepribadian seluruh warga negara baik penyelenggara negara seperti pejabat dan jajarannya, termasuk rakyat biasa sebagai sesama warga negara.

Implementasiannya sungguh sederhana, yaitu memastikan bahwa setiap ucapan, perbuatan, dan tindakan kita sehari-hari mulai dari bangun tidur sampai tidur kembali, itu sungguh-sungguh mencerminkan nilai-nilai yang terkandung dalam Pancasila.

Contoh, kalau kita menjunjung tinggi nilai Ketuhanan maka kita akan mengedepankan kejujuran, kebenaran dan keikhlasan dengan tidak melakukan korupsi. Lalu kalau kita sunguh-sungguh mencerminkan nilai kemanusiaan, maka ketika kita hidup dengan masyarakat dan melihat tetangga kita tinggal dengan rumah yang sangat tidak layak (tidak manusiawi), maka kita akan tersentuh hatinya dan membantu apa yang kita mampu untuk tetangga bisa tinggal lebih manusiawi.

Selanjutnya nilai persatuan, tidak perlu pagar rumah tinggi-tinggi seolah memisahkan kita dengan lingkungan, berbaurlah dengan masyarakat, maka akan ada persatuan dengan sesama warga lingkungan.

Lalu nilai musyawarah, kalau ada masalah atau perbedaan, kita biasakan ajak dialog , ajak bicara secara baik-baik, tanya kenapa dan apa sebabnya dengan mendatangi dan temui lingkungan kita tersebut.

Terakhir, nilai keadilan sosial, kita melhat pejabat negara punya banyak kelebihan dibanding warga biasa, karena pejabat punya kewenangan dan fasilitas yang lebih besar. Sehingga sudah sewajarnya pejabat harus berbagi dengan warga negara dalam konteks mengembalikan kewenangan dan fasilitas yang diterimanya  untuk memperjuangkan kesejahteraan rakyat dilingkungan sekitarnya dan lingkungan yang lebih luas yaitu Indonesia.

Skip Comments

Add new comment

Back to Top