Agun Gunandjar Sudarsa

Untuk DPR Bersih dan Indonesia Lebih Baik
Total votes: 369
Monday, November 3, 2014

Selamatkan Partai GOLKAR Melalui Munas Demokratis

Diposting oleh: 
Editor

Pada acara Silaturahmi 50 Tahun Partai Golkar dan menyongsong Munas Ke-9 Partai GOLKAR dengan tema “Mewujudkan Visi 2045 Melalui Regenerasi Kepemimpinan Partai GOLKAR”. Kami sebagai inisiator yang terdiri dari Hajriyanto Y Thohari, Airlangga Hartarto, Zainuddin Amali, Melky Mekeng, Ridwan Mukti dan Agun Gunandjar Sudarsa, bersepakat bahwasannya kami terpanggil sebagai kader-kader Partai GOLKAR akan kondisi partai yang memprihatinkan saat ini.

Sesunggunya masih banyak kader-kader Partai GOLKAR yang lain yang juga turut merasakan keprihatinan yang sama, paling tidak yang hadir diruangan ini seperti tokoh senior Akbar Tanjung, Hafiz Zawawi, Hariyadi Ahmad, Sofyan Mile, Mudjib Rochmat, Fahri Andi Leluasa, Musfihin Dahlan, Abdi Sahido, Mahadi Sinambela, Ibrahim Ambong, Irsyad Djuwaeli, dan masih banyak lagi yang memberikan dukungan melalui pesan dan telepon karena berhalangan untuk bisa hadir.

Kami melihat kedepan populasi dan karakteristik pemilih Pemilu 2019 itu sudah sangat berubah. Sementara di internal Partai GOLKAR, kami para inisiator di tahun 2019 nanti masuk di usia 50-60 tahun. Pada saat yang sama kader-kader yang betul-betul muda secara riil sudah masuk ke parlemen periode 2014-2019 ini. Maka dengan sendirinya perlu dilakukan regenerasi kepemimpinan dalam tubuh Partai GOLKAR sebagai respon terhadap fenomena pemilih di masyarakat. Dan regenerasi tersebut merupakan perjalanan Partai GOLKAR yang harus ditempuh untuk menunjukan jati dirinya sebagai kekuatan pembaruan dalam pembangunan bangsa.

Kita mencermati bagaimana kondisi Partai GOLKAR riil saat ini jika dibandingkan dengan kondisi partai pada saat awal reformasi. Ketika GOLKAR saat itu bertranformasi menjadi partai politik ditengah opini dan tekanan publik dan media massa untuk pembubaran, tapi hasilnya Partai GOLKAR mampu bertahan dan menjadi pemenang kedua di Pemilu 1999 bahkan menjadi pemenang di Pemilu 2004 dengan 128 kursi di parlemen berkat paradigma baru Partai GOLKAR dibawah kepemimpinan Pak Akbar Tanjung.

Dengan kondisi objektif partai saat ini dan fenomena pemilih kedepan, ditambah semakin kompetitifnya partai-partai lain menangkap momentum perubahan tersebut, kami yakin bahwa regenerasi kepemimpinan di Partai GOLKAR merupakan kebutuhan. Terbukti, Presiden terpilih (Jokowi) berusia 52 tahun dengan kemampuan komunikasi yang baik dengan pemilih pemula. Suka atau tidak hanya dengan regenerasi kepemimpinan itulah Partai GOLKAR sebagai bibit persemaian , pembentukan karakter bangsa melalui kaderisasi akan terwujud dengan sendirinya. Kejayaan Partai GOLKAR tidak akan mungkin tercapai jika kader-kadernya yang berhimpun di AMPG dan AMPI saat ini, tidak menjadi bagian yang dilibatkan untuk memimpin Partai GOLKAR lima tahun kedepan di Munas ke-9 yang akan datang 2015. Karena jika tidak, maka keterpurukan partai yang kita cintai bersama ini sudah menyongsong didepan mata kita. Karena itu para inisiator memilih untuk bergerak mencegah agar keterpurukan itu tidak terjadi.

Kami akan terus bergerak dari Sabang sampai Merauke, dan tentunya dengan dukungan dan restu dari segenap kekuatan elemen partai yang ada dengan sebuah ikhtiar bahwa regenerasi kepemimpinan di Partai GOLKAR harus kami tempuh dan kami lakukan karena kami sadar sebenarnya putra-putri terbaik bangsa lebih banyak berhimpun di tubuh Partai GOLKAR.

Berikut ini adalah komentar para inisiator pada acara tersebut :

Hajriyanto Y. Thohari : Jika Socrates  mengatakan “aku berpikir maka aku ada”, atau Imam Al-Ghazali mengatakan “aku berkehendak maka aku ada”, maka Partai GOLKAR pandangan filosofinya adalah “aku memperbarui maka aku ada”.  Karena mood of existence (semangat yang muncul) dari Partai GOLKAR adalah pembaruan itu sendiri. Partai GOLKAR saat ini dalam momentum yang sangat tepat dan sangat berharga untuk memperbarui dirinya. Karena untuk pertama kalinya dalam sejarah 50 tahun usia GOLKAR berada diluar pemerintahan (eksekutif). Hal ini akan membuat proses pembaruan diri partai Golkar akan lebih genuine (otentik) asli sesuai jatidirinya. Sudah terbukti selama ini pasca reformasi, Partai GOLKAR sebagai kekuatan politik besar senior selalu tidak mampu maksimal meraih kepercayaan publik dan Munas Ke-9 nanti juga merupakan momentum tepat untuk melakukan pembaruan di internal Partai GOLKAR. Munas sebagai wadah pemusyawaratan tertinggi harus dilaksanakan sesuai nilai-nilai demokrasi dan fairness (keadilan) dari segi substansi , bukan prosedur formalitas semata, untuk menunjukan bahwa GOLKAR adalah partai yang demokratis dengan segala proses dan prilakunya dalam berorganisasi. Hanya dengan Partai GOLKAR yang demokratis bisa mendemokratisasi bangsa ini, hanya dengan Partai GOLKAR yang bersih bisa membersihkan negara ini.

Airlangga Hartarto : Kita berharap dalam proses demokrasi pada Munas Ke-9 nanti bukan untuk melarang yang satu dan membolehkan lainnya untuk turut berpartisipasi, tetapi memberi kesempatan kepada seluruh kader yang terpanggil untuk berpartisipasi. Tentang fenomena pemilih ke depan, generasi pekerja tahun 2019 nanti sebagian besar tumbuh dan berkembang pasca orde baru, bahkan pemilih pemula nanti adalah generasi yang lahir pada tahun 2000-an, dua komponen besar pemilih ini tidak bersinggungan langsung dengan kebijakan Partai GOLKAR yang lalu (orde baru), sehingga kita perlu pengelolaan partai yang lebih progresif yang mampu memperkenalkan diri dan hadir ditengah-tengah mereka. Seperti ungkapan rekan saya Mudjib Rochmat bahwa “setiap generasi itu ada era-nya, dan setiap era itu ada generasi-nya”. Pada saat ini, Partai GOLKAR harus memiliki posisi yang jelas dimata rakyat, jika sekarang fokus di parlemen tentunya harus memiliki ukuran untuk rakyat melihat yaitu melalui parlemen berjuang mensejahterakan rakyat, dengan konsisten menyelesaikan masalah kesenjangan ekonomi-sosial yang masih terjadi. Pemilu 2019 nanti berbeda dengan pemilu-pemilu sebelumnya karena Pileg dan Pilres dilakukan serentak. Artinya Partai GOLKAR harus mempersiapkan diri melalui kader-kadernya yang mampu berkomunikasi dengan pemilih pemula dan memiliki kompetensi untuk menghadapi tantangan ekonomi-sosial, untuk berkuasa baik di eksekutif maupun di legislatif.

Melky Mekeng : Kepemimpinan Partai GOLKAR saat ini telah gagal pada Pemilu 2014 lalu, karena secara perolehan kursi terjadi penurunan dan secara pencalonan di eksekutif Partai GOLKAR tidak mampu mencalonkan kadernya sebagai calon presiden atau Wakil Presiden, untuk itu hasil tersebut harus di evaluasi. Kita memiliki blueprint visi Indonesia Sejahtera 2045, tapi itu hanya jadi dokumentasi yang tidak berarti jika realita politiknya Partai GOLKAR tidak pernah memimpin bangsa dan negara dengan pemjadi pemenang pemilu. Saya berpendapat, harus ada regenerasi kepemimpinan di internal Partai GOLKAR. Melalui Munas Ke-9 nanti, proses regenerasi ini harus dilakukan dengan cara yang sehat, bukan dengan cara menekan-nekan, mengancam-ancam, atau memecat-mecat. Partai GOLAKR harus memberi contoh alam demokrasi yang sehat, karena saya yakin hanya dengan cara demokrasi yang sehat Partai GOLKAR tercinta ini mampu berjaya kembali.

Ridwan Mukti : Visi besar Indonesia Sejahtera 2045 harus dikawal melalui regenerasi di tubuh elemen politik bangsa Indonesia, salah satunya adalah regenerasi di dalam tubuh Partai GOLKAR. Berangkat dari fakta empirik, realitas politik saat ini pasca Pemilu 2014 yang merupakan proses election yang demokratis oleh rakyat, hasilnya Presiden RI berusia relatif muda, produk regenerasi. Kemudian hasil di parlemen, mayoritas diraih oleh generasi muda. Ini berarti tentang regenerasi, alam sudah mengkehendakinya untuk berproses. Gejala realitas politik ini, dikuatkan dengan sejarah Partai GOLKAR ketika Pak Akbar Tanjung terpilih sebagai Ketua Umum Partai GOLKAR dengan usia 52 tahun pada saat itu, hasilnya jelas Partai GOLKAR berhasil menjadi pemenang Pemilu 2004. Dengan tanda-tanda alam dan fakta empiris tersebut maka saya berkeyakinan bahwa regenerasi  di dalam tubuh Partai GOLKAR untuk mengawal visi Indonesia Sejahter 2045 adalah sebuah KENISCAYAAN. Dalam usia emas Partai GOLKAR ke-50 perlu kita lihat kedalam diri Partai GOLKAR sendiri apakah kualitas demokrasi internal semakin baik atau semakin mundur? Kualitas ini akan mempengaruhi wajah Partai GOLKAR dalam menghadapi Pemilu 2019 nanti. setidaknya ada tiga hal yang dapat menjadi indikasi kualitas demokratisasi di internal Partai GOLKAR. Pertama Diskresi, terjadi gejala semakin kuatnya proses pengambilan keputusan Partai GOLKAR diambil oleh tangan seseorang saja, dengan memberikan ruang diskresi yang seluas-luasnya pada seorang tersebut. Kedua Pengkultusan, terjadi gejala semakin kuatnya pengkultusan kepada sosok seseorang semata. Foto yang ditampilkan tidak boleh foto selain Ketua Umum Partai GOLKAR. Ketiga Pecat-memecat, terjadi gejala pecat-memecat yang semakin banyak, ancam-mengancam juga semakin besar. Apakah cocok kondisi saat ini yang semakin mundur kualitas demokratisasinya dengan usia emas Partai GOLKAR ke-50 sebagai sebuah elemen politik bangsa besar dan majemuk seperti Indonesia? Ini bahan renungan buat kita semua jelang Munas ke-9 nanti demi cinta kami kepada Partai GOLKAR tempat kami berkarya untuk bangsa.

Zainuddin Amali : Saya ingin berbagi kepada semua apa alasan saya pertama kali masuk Partai GOLKAR. Ada dua hal, Pertama karena kesamaan ideologi yang cocok dengan pemikiran saya. Kedua karena demokratisasi yang ada di dalam partai. Dengan segala hormat, jika dibandingan dengan partai lain, maka Partai GOLKAR yang paling demokratis, karena sejatinya tidak ada kekuatan tunggal yang bisa memonopoli kekuasaan apapun di dalam Partai GOLKAR ini. Jika ada gejala-gejala yang mengarahkan Partai GOLKAR sebagai milik perseorangan , milik kelompok , maka tanpa diminta pasti dengan sendirinya setiap elemen dalam tubuh Partai GOLKAR hatinya akan berontak. Dan gerakan inisiator ini adalah bentuk dari rasa cinta hati kami kepada partai yang telah membesarkan kami. Nurani kami terpanggil ketika didalam rumah partai yang sejatinya demokratis tapi kenyataannya tidak demokratis. Berbeda pendapat dalam partai harus ada toleransi sepanjang ada alasan rasionalnya. Kalau perbedaan-perbedaan itu sudah dimatikan, maka saya yakin apa yang diprediksi pada Pemilu 2019 suara Partai GOLKAR hanya sampai 1 digit bisa menjadi kenyataan. Perlu diingat bahwa, apa yang dilakukan oleh inisiator ini jika tanpa dukungan dari para senior seperti Pak Akbar Tanjung dan lainnya serta para junior seluruhnya maka akan layu sebelum berkembang. Karena yang kita lawan ini adalah cara-cara yang tidak demokratis sehingga kita tidak boleh melawannya dengan cara yang tidak demokratis pula. Kita harus memperlihatkan contoh keteladanan kepada publik, bahwa kita mampu mengelola dan memimpin Partai GOLKAR ini dengan cara-cara yang demokratis. Hanya dengan itu partai ini akan dilirik kembali dan dicintai rakyat. Dan ini bukan cerita kosong, karena Akbar Tanjung sudah membuktikannya pada saat Partai GOLKAR menjadi pemenang Pemilu 2004 setelah melakukan serangkaian cara pengelolaan dan kepemimpinan yang demokratis. Inilah kesempatan besar bagi setiap elemen dalam tubuh Partai GOLKAR yang mencintai partai ini untuk sama-sama kita bangkit kembali melalui gerakan ini.

Priyo Budi Santoso : Saya bisa berikan contoh tentang kebanggaan demokratisasi di Partai GOLKAR yaitu pada saat Munas 2004, ketika Ketua Umum Partai GOLKAR Pak Akbar Tanjung menyatakan untuk maju kembali dalam pemilihan sebagai ketua umum. Saat itu meskipun Pak Akbar Tanjung masih dengan seperangkat kekuasaan dan kewenangan penuh sebagai ketua umum, tapi itu tidak digunakan untuk mengintimidasi, mengancam ataupun melakukan tekanan-tekanan kepada kompetitor politiknya. Saya memperingatkan, kepada seluruh jajaran di internal Partai GOLKAR untuk mengembalikan sistem dan tata cara demokrasi kepada yang selama ini sudah kita bangun bersama dengan susah payah, karena jika tidak dikembalikan kepada tata cara yang sehat seperti semula adanya, saya khawatir Partai GOLKAR akan menuju kepada jurang kehancuran.

Agus Gumiwang Kartasasmita : Ada dua hal yang ingin saya sampaikan, Pertama tentang perubahan, yaitu regenerasi dalam Partai GOLKAR yang diusung oleh kami-kami ini sebagai poros muda yang lebih mengalami dan bersentuhan langsung dengan fenomena yang terjadi saat ini dan tantangan kedepan. Kedua tentang kontinuitas, yaitu mengambil hal-hal yang baik untuk terus ditingkatkan dan menjadikan hal-hal yang buruk sebagai pembelajaran dari setiap rezim kepemimpinan Partai GOLKAR sebelumnya.

Akbar Tanjung : Kepada junior-junior saya para inisiator yang sudah saya kenal akrab betul, karena saya tahu mereka sudah lebih dari 10 tahun berkiprah ditingkat kepemimpinan nasional maupun di Partai GOLKAR maka saya merasa mereka-mereka ini adalah aset yang layak menjadi penerus dalam kepemimpinan Partai GOLKAR maupun kepemimpinan bangsa kita. Dari paparan mereka, saya mencatat adanya suatu keprihatinan yang didasari oleh rasa cinta kepada Partai GOLKAR sehingga mereka terpanggil untuk melakukan suatu perbaikan terhadap kondisi internal partai yaitu pembaruan atau regenerasi. Dari keterpanggilan itu mereka tidak ragu-ragu untuk menyatakan akan maju pada pemilihan ketua umum Partai GOLKAR di Munas nanti, dan itu harus dihormati. Dalam kepemimpinan politik tidaklah relevan kalau dikatakan ada generasi tua  atau generasi muda, karena sejatinya siapa yang merasa terpanggil harus diberi kesempatan terlepas usianya. Saya sendiri pernah maju kembali pada tahun 2004, alasan saya jelas, saya melihat bahwa apa yang saya lakukan dan pimpin dalam satu periode sebelumnya adalah sebuah periode survival (penyelamatan) partai yang perlu ditindak lanjuti. Pengalaman saya mempimpin Partai GOLKAR membuktikan bahwa , hanya dengan kesungguhan, keseriusan, soliditas dan keyakinan yang tulus diperjuangkan untuk bangsa yang mampu menghantarkan Partai GOLKAR pada kemenangan. Perubahan dari orde baru ke era reformasi kami sikapi dengan penyesuaian atau adaptasi, dengan membangun suatu paradigma baru yang menyatakan kepada publik bahwa Partai GOLKAR sudah berubah (dari konotasi orde baru yang militeristik dan otoriter). Paradigma baru Partai GOLKAR adalah sejalan dengan cita-cita era reformasi yaitu demokrasi , kemandirian, kerakyatan, modernisasi dan pembaruan. Inilah yang menjadi kunci Partai GOLKAR memasuki era reformasi. Salah satu hasilnya adalah inovasi politik dalam perekrutan  calon presiden melalui konvensi, hal ini bahkan tidak dilakukan oleh partai-partai lain yang menyebut dirinya partai reformasi. Jadi kata kunci dalam kompetisi politik adalah proses demokrasi yang fair, karena itulah yang terpenting. Walaupun pemenang konvensi Pak Wiranto tidak berhasil menjadi Presiden RI dan yang menang adalah SBY, itu menunjukan bahwa suatu era membutuhkan figur pemimpin yang dianggap (oleh rakyat) sesuai dengan kebutuhan era tersebut. Perlu juga kita kritisi tentang tren perolehan kursi Partai GOLKAR di parlemen yang terus menurun, jika kondisi ini dibiarkan dan pengelolaan partai dilakukan secara business as ussual (biasa-biasa saja) padahal situasi dan kondisi pemilih sudah berubah, maka pada Pemilu 2019 saya ambil secara moderat dari tren penurunan bisa hanya tinggal 70 kursi. Untuk itu saya lebih mengkehendaki partai ini akan dipimpin oleh orang yang komitmennya penuh dan total. Seperti pengalaman saya, dalam politik kita harus total. Tidak bisa setengah-setengah, business as ussual itu tidak bisa. Harus total kita mengemban misi, mengemban tugas sebagai seorang politisi, tidak boleh setengah-setengah. Itulah yang saya praktikan ketika memimpin Partai GOLKAR saya tidak ada jam kerja. Jam 12 malam orang datang ke kantor saya siap, kerumah saya siap, hasilnya alhamdulillah. Jadi totalitas dalam mengemban tugas itu tidak bisa separo-separo, komitmen kepada partai, passion (semangat) dan rasa cinta kepada institusi, selain juga kemampuan manajerial , kepemimpinan , pemberian visi dan misi terutama tentang fenomena pemilih pemula yang semakin kritis. Perlu diingat, Pemilu 2019 dilakukan secara serentak, kita harus melakukan strategi yang tepat. Strategi yang betul-betul bisa menjamin , pertama kita bisa menaikan perolehan suara dan kursi, kedua kita bisa menemukan tokoh yang tepat yang kita dukung sesuai dengan dinamika yang menjadi kebutuhan publik. Cita-cita ini harus kita pasang tinggi-tinggi sebagai motivasi, dilanjutkan dengan langkah terukur, kerja keras, dan juga membangun institusi partai, soliditas kita jaga, kaderisasi kita perkuat, dan yang tidak kalah pentingnya adalah kepekaan kita akan kebutuhan rakyat dan masalah-masalah yang dihadapinya.

Agung Laksono : Perlu diperhatikan agar dalam proses pengambilan keputusan di Partai GOLKAR jangan dimonopoli oleh satu-dua orang, kelompok atau komplotan. Bahwa untuk mengolah suatu keputusan dilakukan oleh sebuah tim khusus memang bagus tapi jangan dilupakan mekanisme selanjutnya seperti rapat-rapat harian, rapat pleno, baru lalu dijadikan keputusan. Maksud saya adalah ownership  (kepemilikan) dalam proses pengambilan keputusan untuk kedepan jikalau nanti diantara kita ada yang terpilih menjadi ketua umum harus memegang demokratisasi dalam prosesnya. Sehingga keputusan itu tidak menjadi “dusta diantara kita” karena kita semua terlibat dan ikut ambil bagian dari prosesnya. Akan tercipta soliditas dan saling melindungi keputusan yang dibuat bersama itu. Intinya semua elemen pemangku kepentingan harus terlibat dalam proses pengambilan keputusan. Kalau ada satu saja elemen yang ditinggalkan dalam proses, pasti ia akan melawan. Selain itu, kita juga harus mulai kritis memikirkan bagaimana format yang paling tepat untuk rekrutmen kepemimpinan nasional, seperti dalam menetapkan calon presiden bukan agar bukan sekedar berpartisipasi tapi juga untuk meraih kemenangan. Apakah menggunakan sistem Konvensi, sistem Rapimnas, sistem Survey atau sistem lainnya. Konkordan dengan itu, diterapkan hal yang sama untuk menentukan calon-calon kepala daerah di tingkat Provinsi, Kabupaten/Kota. Tapi kembali ownership proses pengambilan keputusannya jangan didominasi DPP (dewan Pimpinan Pusat), DPP itu tidak super yang tahu segalanya. Pak Akbar Tanjung mengajarkan pada saya bahwa Partai Politik itu harus sentralistik satu kesatuan, tapi menurut saya harus melibatkan semua, sesuai azas proporsionalitas. Misal untuk menentukan Bupati, pengurus Kabupaten lebih besar, Provinsi sedang, DPP lebih kecil, dan begitu seterusnya tergantung konteksnya, jangan semuanya ditentukan oleh DPP, apalagi orang DPP itu-itu juga. Dampak dominasi DPP dalam menentukan rekrutmen kepala daerah adalah di Papua dari 28 kepala daerah sekarang tinggal 6 yang berasal dari Partai GOLKAR, begitu juga didaerah lain terjadi penurunan. Padahal kemenangan kader partai sebagai kepala daerah merupakan stepping stone (pijakan awal) yang sangat strategis untuk kemenangan Pemilu ke depan. Ini adalah fakta akibat kesalahan dalam memproses keputusan partai politik.

MS Hidayat : Gerakan ini adalah komitmen kita memaknai demokrasi yang kita yakini agar kedepan proses demokrasi itu dikembalikan kepada jalan yang lurus , prosedural, sesuai tata cara aturan dan tidak membuat hal-hal diluar itu. Munas Partai Golkar sudah berlangsung 8 kali, dan tidak pernah terjadi hal-hal yang keluar dari rel, apapun besarnya pertentangan dan persaingan yang ada, kita ingin hal tersebut diteruskan di Partai GOLKAR. Kami semua para calon ketua umum telah berikrar bahwa kami akan melakukan persaingan secara sehat terbuka, demokratis, adil dan akuntabel. Dan siapapun yang menang akan didukung oleh semuannya dan kami akan menjaga soliditas partai agar tidak ada perpecahan partai lagi setelah munas. Tradisi buruk Partai GOLKAR yang sering kali melahirkan partai-partai baru pasca Munas akan kita akhiri bersama.

 

Skip Comments

Add new comment

Back to Top